Share It

Senin, 27 Agustus 2012

TINDAKAN GAWAT DARURAT

 PEMASANGAN INFUS


BAB I 

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemasangan infus merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan cara memasukkan cairan melalui intra vena (pembuluh balik) melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateler atau dengan jarum yang di sambungkan. Dan yang di maksud dengan pemberian cairan intravena adalah memasukan cairan atau obat langsung kedalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu dengan menggunakan infus set (potter,2005)
Tindakan infus biasa diberikan pada klien dengan dehidrasi, sebelum transfusi darah, pra dan pasca bedah sesuai program pengobatan, serta klien yang sistem pencernaannya terganggu, serta untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah: Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) Serangan panas (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi) Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh) Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah : Indikasi, kontraindikasi, serta komplikasi saat pemasangan infus. Jenis-jenis cairan infus. Prosedur pemasangan infus.

 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Indikasi, kontraindikasi, serta Komplikasi saat Pemasangan Cairan Infus melalui intra vena
Indikasi Pemasangan Cairan Infus Melalui Intra vena Pemberian cairan intravena (intravenous fluids). Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. Pemberian kantong darah dan produk darah. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat) Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.
Kontraindikasi Pemasangan cairan infuse melalui intra vena
Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah). Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). Komplikasi pemasangan cairan infuse melalui intra vena Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
B.      Jenis-jenis cairan infus
Adapun jenis-jenis cairan infus yang biasa digunakan adalah : Cairan hipotonik : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih
rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi. Misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak). Contohnya : adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
Cairan Isotonik : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
Cairan hipertonik : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Kristaloid : bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
Koloid : ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
C.     Prosedur pemasangan infus
Adapun prosedur/cara pemasangan infus yaitu :
Persiapan alat
1. Standar infuse
2. Cairan steril sesuai intruksi
3. Set infuse steril
4. Jarum/wing needle/Abocth dengan nomor yang sesuai
5. Bidai dan pembalut
6. Tali pengikat
7. Perlak
8. Pengikat pembendung (tourniquet)
9. Kapas alcohol 70%
10. Plaster
11. Gunting
12. Piala ganjal
13. Kassa secukupnya
14. Bethadin 10% dalam tempatnya  
Prosedur kerja
1. Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Hubungkan cairan dan infus set dengan menusukkan kabagian karet atau akses selang kebotol infus
4. Isi cairan kedalam set infus dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian dan buka klem selang hingga cairan memenuhi selang dan udara selang keluar
5. Letakkan pengalas dibawah tempat (vena)yang akan dilakukan penginfusan
6. Lakukan pembendungan dengan tourniquet (karet pembendung) 10-12 cm diatas tempat penusukkan dan anjurkan pasien untuk menggenggam dengan gerakan sirkuler (bila sadar)
7. Gunakan sarung tangan steril
8. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alcohol
9.  Lakukan penusukkan vena dengan meletakkan ibu jari dibagian bawah vena dengan posisi  jarum (abocath) mengarah keatas
10. Perhatikan keluarnya darah melelui jarum. Apabila saat penusukkan terjadi pengeluaran darah melalui jarum maka tarik keluar dalam jarum sambil meneruskan tusukan kedalam vena
11. Setelah jarum infus bagian dalam dilepaskan/dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. Kemudian bagian infuse dihubungkan/disambungkan dengan selang infuse
12. Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sasuai dengan dosis yang diberikan
13. Lakukan fiksasi dengan kassa steril
14. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta catat ukuran jarum
15. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
16. Catat jenis cairan, letak infuse, kecepatan aliran, ukuran, dan tipe jarum infuse

 BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Pemasangan infus merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan cara memasukkan cairan melalui intra vena (pembuluh balik) melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateler atau dengan jarum yang di sambungkan. Tindakan infus biasa diberikan pada klien dengan dehidrasi, sebelum transfusi darah, pra dan pasca bedah sesuai program pengobatan, serta klien yang sistem pencernaannya terganggu, serta untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Jenis-jenis cairan infus yang biasa digunakan adalah : cairan hipotonik ( NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%), cairan Isotonik (cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%)), cairan hipertonik (Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin), Kristaloid dan Koloid.
B.      Saran
Untuk melengkapi kekurangan makalah ini diharapkan saran dan kritik dari pembaca.

 DAFTAR PUSTAKA
Buku Ketrampilan dan Prosedur Keperawatan Dasar Karya Husada.
Buku Ketrampilan Dasar Praktik klinik kebidanan Penerbit Salemba Medika.
www.google.com

TINDAKAN YANG TEPAT PADA SAAT YANG TEPAT










Secara umum tindakan ABC seperti pada tulisan bagian pertama dapat dilakukan pada jenis kecelakaan apa saja bila memang diperlukan. Tindakan-tindakan khusus menurut jenis kecelakaan dapat Anda ikuti dalam tulisan berikut. Usahakanlah tindakan-tindakan dilakukan secara tenang dengan pikiran tenang tindakan dapat dilakukan secara benar.
Kasus apa saja yang dibahas disini?
  • Perdarahan
  • Luka bakar/melepuh
  • Tersetrum
  • Tenggelam
  • Patah tulang
A. Perdarahan
Bila terjadi perdarahan di hidung atau mimisan.
  • Dudukkan penderita. Bisa juga dalam posisi berdiri (jangan dibaringkan).
  • Tundukkan kepala penderita sedikit ke depan taruh kompres dingin di leher bagian belakang.
  • Usahakan untuk sering mengganti kompres sehingga bagian belakang leher tetap dingin.
  • Kompres panas justru akan memperbanyak perdarahan.
  • Biasanya perdarahan akan berhenti setelah 4-5 menit.
Bila perdarahan terjadi pada jari /tangan angkat jari/tangan tinggi-tinggi.
Bila terjadi perdarahan banyak.
  • Yang pertama harus anda lakukan adalah menenangkan penderita agar tidak terlalu banyak bergerak.
  • Jangan buang waktu dengan mencari-cari tissue atau kain pembalut.
  • Setelah penderita tenang barulah Anda lakukan sbb.:
1.    Baringkan penderita.
Usahakan bagian tubuh yang terluka dalam posisi yang lebih tinggi dari tubuhnya. Dengan demikian aliran darah ke tubuh yang terluka akan mengalir lebih lambat.
2.    Bila pada luka terdapat potongan kaca atau benda lain.
§  Tekan bagian bawah dan atas luka.
§  Jangan tekan langsung pada lukanya.
3.    Bila perdarahan berhenti jangan bersihkan darah-darah yang mengering pada permukaan luka. Darah yang mengering merupakan reaksi alami tubuh untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
4.    Bebat luka/Tekan luka dengan sepotong kain bersih. Setelah itu segera panggil dokter atau bawa ke rumah sakit.
 
Contoh tindakan pada perdarahan:
1.    Perdarahan.
2.    Tinggikan anggota yang bersangkutan dan lakukan penekanan setempat (1). Bila perlu berikan tekanan pada arteri (2)
3.    Letakan gulungan pembalut di bawah balut tekan untuk memberikan tekanan setempat
B. Luka bakar/melepuh
Melepuh terjadi bila sebagian kecil kulit terkena air mendidih atau sesuatu yang panas. Untuk hal ini biasanya pertolongan pertama sudah mencukupi. Pertolongan pertama pada luka bakar yang ringan atau melepuh adalah sbb.:
1.    Dinginkan luka dengan air mengalir selama kurang lebih 20 menit.
Pendinginan yang konstan dapat menghindari penyebaran panas pada permukaan kulit.
2.    Bila cara di atas tidak memungkinkan, misal Anda dalam perjalanan Anda dapat menggunakan Brandwundenspray yaitu spray untuk luka bakar yang tersedia di apotik.
3.    Jangan olesi sembarangan pada luka
Jangan oleskan krem, minyak atau sembarang salep dan jangan pergunakan kapas pada permukaan luka karena dapat menempel
4.    Hindari infeksi
Untuk menghindari infeksi pada luka bakar Anda dapat mengoleskan salep atau krem khusus: desinfizierende Wundgele salep desinfektan khusus luka bakar. Tersedia di apotik
5.    Biarkan luka terbuka
Bila luka bakar atau kulit yang melepuh kecil usahakan luka tetap terbuka agar mudah kering. Namun hal dilakukan bila memang infeksi relatif kecil terjadi. Bila luka bakar atau melepuh seluas atau lebih luas dari dua kali telapak tangan Anda perlu segera penanganan dokter. Dalam hal ini pertolongan pertama saja tidaklah mencukupi.
C. Tersetrum
Tersetrum terjadi bila seseorang memegang alat elektronik atau kabel listrik yang rusak, bila sudah terjadi begitu otot-otot tangan tidak bisa lagi melepas benda yang menyebabkan penderita tersetrum. Bila Anda memegang penderita tanpa sebelumnya mematikan aliran listrik maka Anda akan terkena strum. Tindakan apa yang dapat Anda lakukan?
1.    Segera matikan aliran listrik. Cabut steker. Atau matikan sikring pusat.
2.    Jauhkan penderita dari sumber listrik. Untuk dapat memegang penderita tanpa kesetrum anda memerlukan benda yang tidak bisa mengantarkan listrik. Gunakan misalnya, sarung tangan karet yang kering (air juga dapat mengantarkan listrik !!), atau tongkat sapu. (lihat gbr disamping).
3.    Periksa apakah penderita masih bernapas dengan normal. Bila tidak lakukan pernapasan mulut.
4.    Bila penderita masih bernapas dengan normal baringkan dengan posisi sisi mantap . Yaitu miringkan penderita ke sisi kanan, tangan kiri penderita letakkan di pipi kanan.Hal ini dilakukan supaya penderita bisa bernapas spontan (tidak tertutup oleh lidah ).
5.    Hubungi segera dokter atau ambulans
6.    Letakkan kain atau pakaian yang kering dan tidak berbulu pada permukaan luka.
D. Tenggelam
Bagi anak kecil atau bayi sudah dapat dikatakan tenggelam bila seluruh mukanya tenggelam dalam genangan air yang tidak terlalu dalam, misalnya kolam di kebun. Bila air dalam jumlah banyak tertelan penderita terancam bahaya, Anda dapat melakukan pertolongan pertama sbb.:
1.    Angkat kepala atau tubuh penderita dari air, sehingga air dapat keluar dari saluran pernafasan.
2.    Bila diperlukan lakukan pernapasn mulut. Walaupun penderita sudah tidak bernapas dalam waktu yang agak lama pernapasan mulut dapat kembali menormalkan pernapasan.
3.    Bila pernapasan sudah kembali normal dudukkan penderita
4.    Hubungi segera dokter atau ambulans.
E. Patah tulang
Patah tulang terdiri dari dua jenis, yaitu patah tulang terbuka dan petah tulang tertutup. Yang dimaksud patah tulang terbuka ialah patah tulang disertai luka pada permukaan kulit. Sedangkan yang dimaksud patah tulang tertutup adalah patah tulang tanpa disertai luka.
Jatuh dari pohon atau tempat tinggi (misal sehabis meloncat) biasanya hanya menyebabkan patah tulang tertutup.
Anda dapat membedakan antara patah tulang dan keseleo biasa antara lain dengan tanda-tanda sbb:
Biasanya pada patah tulang terdapat:
- Rasa sakit yang amat sangat
- Bagian tubuh yang bersangkutan tidak bisa digerakkan
Untuk penanganan lebih lanjut segera panggil dokter atau ambulans, usahakan penderita jangan bergerak sedikitpun. Jangan beri minum atau makan bagi penderita, siapa tahu diperlukan penangan operasi yang membutuhkan bius total.
Penanganan medis terlebih lagi sangat urgen bila saat jatuh diawali dengan posisi kepala dibawah.
Walaupun penderita tidak merasa sakit perhatikan gejala-gejala yang terjadi setelah jatuh. Misalnya muntah, sakit kepala, keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga, sesak napas dan tanda-tanda terhambatnya gerakan tubuh. Bila anda menemukan salah satu diantara gejala diatas segera hubungi dokter atau ambulans.

PERAWATAN LUKA

I.               PENDAHULUAN
Kulit berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap bahaya lingkungan. Kulit melindungi tubuh dari kerusakan akibat mekanik, iradiasi, efek termal, kimia, dan masuknya mikroorganisme. Adanya luka menimbulkan hilangnya fungsi perlindungan oleh kulit. Bakteri dapat masuk ke jaringan yang lebih dalam dan menimbulkan perlawanan tubuh serta menimbulkan resiko infeksi.
Banyak luka kecil yang sembuh tanpa perhatian dari pemberi pelayanan kesehatan, jika orang yang luka memiliki bahan-bahan dasar yang diperlukan untuk penyembuhan seperti suplai darah cukup, sistem kekebalan utuh, status nutrisi baik. Tetapi seseorang dengan luka besar atau lebar atau luka yang disengaja khususnya insisi operasi memerlukan pengawasan dan perawatan untuk terjadinya penyembuhan yang optimal.
Luka adalah rusaknya kontinuitas dari jaringan tubuh. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menjelaskan luka. Luka dimana tidak terjadi kerusakan pada permukaaan kulit disebut luka tertutup. Dan luka dimana terjadi kerusakan pada kulit atau membran mukosa disebut luka terbuka. Luka intensional disebabkan secara sengaja, seperti pada operasi atau pada waktu memasukkan infus intravena. Luka yang tidak intensional juga disebut luka kecelakaan, terjadi karena kecelakaan seperti robeknya kulit karena jatuh dari sepeda.
 II.            JENIS LUKA
Luka dibagi menurut cara mereka didapat dan luas kulit yang terkena. Sistem klasifikasi ini meliputi 6 tipe luka :
1.      Luka Insisi/Luka Iris
      Dibuat secara sengaja atau tidak sengaja oleh alat yang tajam, seperti pisau atau pisau bedah.
2.      Luka Kontusio
      Kontusio adalah luka yang tidak disengaja.Terjadi sebagai hasil dari benturan benda  yang tumpul; kulit tetap utuh tetapi jaringan di bawahnya dan pembuluh darah rusak. Pada luka tertutup, kulit kelihatan memar.
3.      Luka Abrasi
Terjadi oleh geseran atau garukan pada kulit, secara tidak sengaja, seperti ketika seorang anak terjatuh pada lututnya terjadi goresan, atau secara disengaja ketika ahli bedah plastik menghilangkan jaringan parut melalui teknik pembedahan abrasi dermis.
4.      Punktur atau Luka Tusuk
Dibuat oleh benda yang tajam yang memasuki kulit dan jaringan di bawahnya. Luka punktur yang disengaja dibuat oleh jarum pada saat injeksi; punktur yang tidak disengaja terjadi bila paku menusuk alas kaki bila paku tersebut terinjak.
5.      Luka Laserasi
Terjadi bila kulit tersobek secara kasar. Ini terjadi secara tidak disengaja, biasanya disebabkan oleh kecelakaan.
6.      Luka Penetrasi
Terjadi bila benda yang terdorong masuk ke kulit atau membran mukosa. Merupakan luka yang tidak disengaja. Benda yang masuk seperti pecahan metal atau peluru, berada dalam jaringan di bawah kulit; projektil meninggalkan suatu saluran melewati jaringan yang dapat tertutup secara lengkap.
 III.        PENYEMBUHAN LUKA
Proses regenerasi penyembuhan luka menggambarkan 3 fase, yaitu :
1.      Fase Inflamasi
Fase Inflamasi terlihat selama beberapa hari pertama setelah cedera.
2.      Fase Proliferasi
Fase Proliferasi dimulai pada 4 – 5 hari setelah cedera dan selesai dalam waktu dua minggu.
3.      Fase Maturasi
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan sesuai jenis luka.
  IV.        PENYEMBUHAN YANG TERHAMBAT
Jika ada satu atau lebih faktor resiko, luka dapat tidak sembuh dalam periode waktu yang biasanya. Kondisi ini disebut penyembuhan luka yang terhambat.
 Faktor- faktor yang mengkontribusi terhambatnya perawatan luka :
1.      Menurunnya sirkulasi kebagian tubuh yang disebabkan oleh usia atau patologis (seperti pada Diabetes).
2.      Perubahan status nutrisi, khususnya kekurangan protein, zat besi, atau vitamin C. Ini dapat terjadi pada orang tua, pengguna obat-obatan dan alkohol yang kronik, atau orang yang sembuh dari penyakit kronik seperti kanker.
3.      Terapi Farmakologi (obat-obatan) yang dapat mempengaruhi atau merubah respon inflamasi atau meningkatkan waktu koagolasi (pembekuan) darah.
4.      Merokok, yang secara langsung berdampak pada suplai oksigen perifer ke jaringan melalui perubahan status pernafasan dan konstriksi vaskuler.
5.      Obesitas (kegemukan), dimana jaringan lemak memiliki oksigen dan zat gizi sedikit karena vaskular yang lebih sedikit.
6.      Tekanan pada luka yang disebabkan oleh keadaan fisik seperti penarikan jahitan atau balutan yang ketat, respon hormonal terhadap nyeri yang lama atau yang tidak hilang, atau faktor fisiologis seperti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
7.      Komplikasi luka seperti perdarahan, infeksi, dehiscence atau eviserasi.
 V.            KOMPLIKASI LUKA
Komplikasi luka terjadi jika keadaan fisiologis atau mekanis yang tidak diharapkan menghambat penyembuhan. Dua komplikasi yang paling umum adalah perdarahan yang berlebihan dan infeksi.
A.    Perdarahahan Yang Berlebihan
Perdarahan yang sedikit dapat terjadi pada setiap luka, tetapi ini diperiksa melalui hemostasis, pembekuan darah yang terjadi melalui proses koagulasi fisiologis atau tekanan mekanis pada luka. Perdarahan yang berlebihan adalah perdarahan yang lama, tidak dapat dihentikan.
Perdarahan terjadi jika beberapa pembuluh darah pembawa darah ke seluruh tubuh – arteri, vena atau kapiler – putus atau pecah. Dapat tejadi pada pembuluh-pembuluh darah sebelah luar yang terlihat atau bagian dalam yang tidak terlihat. Darah dari pembuluh arteri berwarna merah terang dan menyembur, sedangkan darah dari pembuluh vena berwarna lebih gelap dan menitik. Darah dari pembuluh kapiler berwarna merah sedang dan keluarnya merembes.
Perdarahan yang serius selalu membahayakan sebab jika terlalu banyak darah keluar dari sistem peredaran darah, sisanya tidak cukup untuk mensuplai oksigen ke seluruh tubuh, berakibat shok dan akhirnya kematian.  
Yang harus dilakukan :
1.      Tinggikan daerah luka. Tekan langsung dengan telapak tangan  menggunakan pembalut/perban atau bantalan yang bersih. Jika tidak ada pembalut gunakan tangan anda, mungkin diperlukan lebih dari 15 menit untuk menekannya.
2.      Jika lukanya besar, tekanlah kuat dan hati-hati. Tekan terus seperti pada langkah 1 di atas.
3.      Angkat dan tinggikan bagian luka hingga berada lebih tinggi dari jantung korban (dada) tidakan ini memperlambat mengalirnya darah ke bagian luka; disebut tindakan elevasi.
4.      Baringkan korban, untuk mengurangi derasnya keluarnya darah.
5.      Tutuplah luka dengan pembalut bersih dan cukup lebar melebihi tepi luka, balut dengan verban; ikat di atas bantalan pembalut.
6.      Jika tak ada pembalut, gunakanlah sepotong kain bersih, tipis dan tidak berbulu.
7.      Jika darah terlihat mulai menembus pembalut, beri lagi di atasnya lalu balutlah.
8.      Amati tanda-tanda terjadinya shok dan rawatlah.

B.     Infeksi Pada Luka
Infeksi luka terjadi melalui kontaminasi ke jaringan. Meskipun dapat disembuhkan dengan terapi antibiotika, infeksi menghambat proses penyembuhan dan memperpanjang  penyembuhan klien dari cedera.
  VI.        PERAWATAN LUKA
Prinsip Perawatan Luka
1.      Perawatan luka dapat dilakukan secara terbuka dan tertutup. Perawatan luka terbuka diutamakan pada luka yang sederhana dan dangkal.
Perawatan luka tertutup bertujuan untuk :
a.       Menjaga luka dari trauma.
b.      Mengimobilisasi daerah luka.
c.       Mencegah perdarahan.
d.      Mencegah kontaminasi oleh kuman.
e.       Mengabsorbsi drainase.
f.       Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis.
g.      Debridemen sel nekrotik.
2.      Indikasi mengganti balutan :
a.   Balutan kotor atau basah akibat eksternal
b.   Ada rembesan eksudat.
c.   Ingin mengkaji keadaan luka.
d.   Dengan frekuensi tertentu, untuk mempercepat debridemen (pengangkatan) jaringan nekrotik.
3.      Indikasi balutan kering atau basah :
a.   Balutan basah digunakan untuk luka yang basah atau banyak drainase.
b.   Luka kering atau drainase minimal digunakan balutan kering.
4.      Membersihkan luka :
a.   Luka kering cukup diusap dengan larutan antiseptik.
b.   Luka berwarna kekuningan/terinfeksi dibersihkan dengan pencucian sampai pus (nanah)  terangkat.
c.   Luka berwarna hitam (nekrotik) harus dinekrotomi secara mekanik atau kimia.
   VII.    PERAWATAN LUKA
A.    Alat dan Bahan
Alat :
1.      Bak instrumen steril berisi :

­   -Pinset anatomis.
­   -Pinset chirurgis.
­                                                -Sarung tangan.
­                         -Gunting jaringan.

2.      Gunting perban.
3.      Plester.
4.      Mangkok kecil.
5.      Bengkok/Nierbeken.
6.      Perlak/handuk.
7.      Tempat sampah.
Bahan :
1.      Larutan NaCl.
2.      Betadine/Rivanol.
3.      Alkohol 70 %
4.      Salep antiseptik.
5.      Perban.
6.      Kasa steril.
B.     Prosedur kerja
1.      Jelaskan prosedur kepada pasien.
2.      Cuci tangan dengan sabun.
3.      Siapkan peralatan dan dekatkan dengan pasien.
4.      Letakkan pasien senyaman mungkin di tempat tidur atau di kursi.
5.      Tutup ruangan dengan tirai.
6.      Angkat atau  lepaskan perekat plester dengan kapas alkohol.
7.      Pasang perlak/handuk di bawah luka yang akan diganti balutan.
8.      Pakai sarung tangan untuk memulai mengganti balutan, angkat balutan dengan memakai pinset anatomis dan letakkan balutan di tempat sampah, perhatikan keadaan luka.
9.      Buka balutan steril, tempatkan dalam bak instruman, buka larutan antiseptik (Betadine, Rivanol) dan tuangkan ke dalam kom kecil.
10.      Bersihkan luka dengan memakai pinset chirurgis, luka dibersihkan dengan kasa yang dibasahi antiseptik dari dalam ke luar secara sirkuler, ulangi sampai bersih. Jika terlalu kotor, cuci dengan NaCl 0,9 % disiram secara perlahan sampai bersih dan air siraman ditampung dalam bengkok/nierbeken.
11.      Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapan dalam membersihkan, gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka.
12.      Berikan salep antiseptik atau kompres dengan antiseptik (Betadine, Rivanol,  NaCl 0,9 %). Hindari kasa yang terlalu basah.
13.      Balut atau tutup semua area luka sampai permukaannya tertutup.
14.      Buka sarung tangan.
15.      Balutan diplester dan alat-alat dirapikan.
              16.   Cuci tangan.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar